Allah

Berbicara mengenai Allah adalah sesuatu yang paling sulit sekali. Manusia dengan segala keterbatasannya tidak akan pernah bisa menjelaskan Allah yang tidak ada bandingannya. Tetapi didalam anugerah-Nya, Allah menyatakan diri-Nya untuk kita bisa mengenal-Nya. Tentu saja didalam tempat yang terbatas ini tidak akan mungkin bisa dijelaskan semua. Saya menulis terus sampai matipun tidak akan pernah bisa menjelaskan sedikit saja dari Allah. Di bagian ini kita akan mendiskusikan sedikit mengenai Allah, khususnya dalam dua sifat-Nya yang menonjol yaitu kasih dan adil. Banyak orang ketika berpikir mengenai Allah, maka dia akan lebih condong memikirkan sifat yang satu daripada yang lainnya.

Sebagian orang yang berpikir bahwa Allah itu adalah kasih sering kali mengesampingkan sifat keadilan dari Allah. Didalam pikiran mereka, Allah adalah seperti seorang kakek yang sabar sekali, pemurah, gampang sekali memaafkan, tidak pernah menuntut, dan kita semua adalah cucu yang manja mau apa saja tidak menjadi masalah. Minta ini dan itu pasti diberi. Salah apa saja pasti diampuni. Hidup berantakanpun sang kakek akan selalu dengan sabar menolong kita. Sebagian yang lain orang akan berpikir bahwa Allah itu adalah adil, yang selalu menuntut, menghukum, sangat keras terhadap kita, diktator demikian, yang tidak bisa melihat orang senang. Seperti seorang guru yang jahat yang menjadikan kita sebagai targetnya. Hidup ini seakan-akan tidak bisa goyang. Ini tidak boleh, itu tidak boleh. Tetapi kedua pengertian ini adalah salah.

Allah adalah kasih tetapi sekaligus adil. Saya tidak memakai kata “seimbang” karena ini tidak tepat karena Allah tidak pernah berusaha untuk menyeimbangkan antara kasih dan adil (mis. 50% kasih 50% adil). Tetapi kasih dan adil secara bersamaan yang memang paradoksikal. Kita sudah mengetahui dari bagian yang sebelumnya bahwa setiap manusia adalah berdosa dan manusia berdosa harus dihukum ini adalah keadilan. Semua orang pasti setuju ini, bersalah harus dihukum. Apa hukuman terhadap dosa? Satu, yaitu maut. Rom 6:23 “sebab upah dosa ialah maut.” Semua manusia yang berdosa harus menerima hukumannya yaitu maut. Apakah kita akan protes dan mengatakan oh Tuhan Engkau tidak adil karena menghukum aku orang yang berdosa? Sama seperti seorang koruptor yang tertangkap basah, diadili dan dihukum. Dapatkah dia protes? Kenapa saya kok dihukum? Disini kita semua pasti akan semua setuju. Keluaran 34:7B “… tetapi tidaklah sekali-kali membebaskan orang yang bersalah dari hukuman.”

Tetapi Allah adalah juga kasih. Karena kasih-Nya, Dia tidak ingin menghukum orang-orang yang dikasihi-Nya. Ada suatu kisah di Rusia di permulaan abad 20. Ada seorang pemimpin gerakan revolusi pada saat itu yang karena pada saat peperangan maka hidup mereka harus berpindah-pindah. Makanan sangat minim dan harus dibatasi. Pada suatu saat ada seseorang yang mencuri makanan dan tertangkap dan ternyata itu adalah ibunya dari sang pemimpin yang sudah lanjut usia. Maka keadilan harus ditegakkan, hukuman harus dilaksanakan, tetapi ada juga kasih kepada ibunya sendiri. Ketika tiba waktunya hukuman diterapkan, maka dia, pemimpin itu, kemudian maju, melepaskan segala jubah kebesarannya, mengambil posisi ibunya untuk kemudian dihukum cambuk.

Tepat pada saat inilah maka kasih dan keadilan bertemu. Sama seperti kita sendiri manusia berdosa yang sudah semua berdosa terhadap Allah, sudah layak menerima hukuman murka Allah, tetapi melalui pengorbanan diri Allah sendiri di dalam Yesus Kristus, yang kemudian mati disalib untuk kita, menggantikan posisi kita, maka disinilah kasih Allah yang luar biasa itu dinyatakan. Didalam pengorbanan Kristus Yesus, maka kasih dan keadilan Allah bertemu.