Anugerah

Konsep anugerah sangatlah penting di dalam ke-Kristenan. Penting sekali untuk pertama-tama kita mengerti pengertian dasar bahwa keselamatan manusia adalah semata-mata anugerah Allah. Hidup kekal adalah anugerah Allah. Rom 6:23 “Karunia Allah ialah hidup yang kekal.” Tanamkanlah ini ke dalam pemikiran kita sedalam-dalamnya karena ini akan menentukan pengertian kita selanjutnya. Konsep ini juga berlawanan dengan pengertian keselamatan yang ada dimana selalu ada usaha ini itu dari orang dan bukan diberikan begitu saja.

Jika keselamatan adalah anugerah, maka konsekuensinya adalah hidup kekal tidak didapat karena usaha manusia atau karena upah dari sesuatu perbuatan/pekerjaan. Ketika manusia berbuat ini dan itu, karena itu ia menerima keselamatan yang sudah seharusnya layak dia terima. Itu namanya upah, bukan anugerah/karunia. Ef 2:8-9 mengatakan “Sebab karena kasih karunia kamu diselamatkan oleh iman; itu bukan hasil usahamu tetapi pemberian Allah, itu bukan hasil pekerjaanmu; jangan ada orang yang memegahkan diri.”

Kita hidup di dunia yang sangat bergantung kepada suatu konsep hukum transaksi. Apa saja yang manusia kerjakan selalu berpatokan pada hukum transaksi. Kalau aku membantu engkau, aku dapat apa. Kapan itu dia memberi aku kue, sekarang aku harus membalasnya. Kapan itu dia mengambil jatahku, sekarang aku ambil jatahnya. Oh aku sudah mengerjakan ini dan itu, maka sekarang aku harus dapat sesuatu upah. Kapan saja ada transaksi yang tidak tuntas, maka selalu yang diserukan adalah “tidak adil”. Ini adalah konsep keadilan dunia. Disana sini kita melihat sekeliling kita maka kita akan mengatakan oh dunia begitu tidak adil.

Di dalam keselamatan, konsep ini tidak berlaku. Karena jika yang dimajukan adalah semata-mata “keadilan” menurut versi dunia, maka kita manusia semuanya sudah harus dihancurkan semuanya oleh Tuhan karena dosa-dosa kita. Tetapi Tuhan memberikan keselamatan kepada orang-orang yang sebenarnya tidak berhak menerimanya dan tidak ada apapun yang orang-orang tadi lakukan yang membuatnya berhak.

Manusia banyak berpikir apa yang harus saya kerjakan untuk bisa masuk sorga. Lalu dia menemukan ide ini dan itu. Berbuat baik misalnya. Apakah ini bisa membuatnya masuk sorga? Berbuat baik seperti apa? Dalam menolong orang misalnya, mau menolong sejauh apa agar bisa masuk sorga? Siapa yang menentukan batasnya? Atas dasar apa? Jika kita ingin memasuki rumah seseorang, tentu kita tidak bisa dengan seenaknya datang lalu masuk sendiri. Harus ada orang pemilik rumah yang mengijinkan kita masuk. Bahkan lebih tidak masuk akal lagi jika kita pergi ke Istana Negara lalu dengan enteng kita melenggang masuk begitu saja. Ketika kita distop oleh petugas, terus kita mengatakan oh pak saya sudah berbuat ini dan itu maka saya layak untuk masuk ketemu Pak Presiden. Bukan masuk ke istana tapi masuk ke penjara jadinya. Untuk bisa masuk ke istana haruslah Pak Presiden yang terlebih dahulu mengundang anda. Apalagi kita mau masuk ke sorga. Cukupkah dengan mengatakan bahwa kita adalah “orang baik” lantas kita bisa masuk?