Sisa Dosa

Penyucian mempengaruhi keberadaan manusia didalam segala aspek kehidupannya, bukan hanya pada bagian-bagian tertentu saja. Penyucian bersifat menyeluruh, baik tubuh maupun jiwa, baik intelek maupun perasaan dan juga kehendak. Semuanya ini disucikan secara utuh, kehidupan yang utuh, tidak terpecah-pecah, yang terintegrasi. Kesucian tidak diterapkan kepada bagian-bagian tertentu hidup kita saja, misalnya semua yang berhubungan dengan gereja harus suci, tetapi di keluarga kita berdosa, di pekerjaan kita berdosa, dsb. Segala aspek kehidupan harus suci. Hal yang paling besar sampai paling kecil harus suci semua.

Didepan orang banyak kita harus suci, didalam kamar ketika sendirianpun kita harus suci.
Tetapi kita harus menyadari kenyataan bahwa sisa dosa itu masih tetap ada. Meskipun kita sudah diselamatkan, tetap didalam kita masih ada dosa. Yang berbeda sekarang adalah kita sekarang memiliki kemungkinan untuk tidak berdosa. Dulu sebelum ditebus, kita hanya bisa berdosa, tidak ada kemungkinan untuk tidak berdosa. Meskipun dosa sudah tidak memiliki kuasa, dia masih bercokol didalam hati setiap orang percaya sambil terus mengintip mencari suatu kesempatan dimana dia akan keluar dan menelan kita.

Paulus di Rom 7:13-25 dia menuliskan mengenai pergumulannya dengan hal ini. Di ayat yang ke-23 dia mengatakan “tetapi di dalam anggota-anggota tubuhku aku melihat hukum lain yang berjuang melawan hukum akal budiku dan membuat aku menjadi tawanan hukum dosa yang ada di dalam anggota-anggota tubuhku.” Dia menyebutkan didalam tubuhnya ada suatu hukum lain yaitu hukum dosa yang masih hidup. Meskipun dia tahu yang benar berdasarkan hukum Allah (Rom 7:22 “di dalam batinku aku suka akan hukum Allah”), tetapi hukum dosa ini berjuang untuk melawannya. Bukankah ini semua dari kita mengalaminya? Saya mengalaminya. Kita sudah tahu Allah itu mau seperti apa, tetapi tetap saja kita diseret untuk melakukan dosa. Sampai pada ayat ke 24 dia mengatakan “aku, manusia celaka! Siapakah yang akan melepaskan aku dari tubuh maut ini?” Saya mengamati kejadian ini pada banyak orang termasuk saya sendiri. Kita sebenarnya tahu firman dan kehendak Allah, tetapi untuk menjalankannya itu masalah yang lain. Ada gap.

Tetapi dia juga memberikan jalan keluarnya yaitu pada ayatnya yang ke-25 “Syukur kepada Allah! oleh Yesus Kristus, Tuhan kita.” Tidak ada yang dapat membebaskan kita dari dosa selain Tuhan kita Yesus Kristus. Tadi sudah disebutkan bahwa dosa sudah tidak berkuasa lagi, meskipun masih ada. Sekarang Roh Tuhanlah yang berkuasa memimpin kita ke jalan yang benar. Kita sudah tidak menghambakan diri lagi kepada dosa, melainkan kita menghambakan diri kepada Tuhan. Rom 6:22 “Tetapi sekarang, setelah kamu dimerdekakan dari dosa dan setelah kamu beroleh buah yang membawa kamu kepada pengudusan dan sebagai kesudahannya ialah hidup yang kekal.” Kuncinya disini. Jadi ketika kita jatuh ke dalam dosapun, kita pasti tidak dapat mengerjakannya dengan enteng saja. Ada desakan kuat agar kita jangan berdosa. Ada kesedihan yang mendalam ketika kita berdosa. Ada ratapan dan tangisan. Dan yang penting, selalu ada pertobatan. Ini adalah pekerjaan Roh Kudus. Ini tidak diberikan kepada orang-orang dunia yang lain. Mereka dapat berdosa dengan semena-menapun dan mereka tidak tahu apa yang diperbuatnya. Seolah-olah mereka “dilepas” oleh Tuhan. Rom 1 menyatakan: “karena itu Allah menyerahkan mereka” yang diulang-ulang. Jika kita berjalan bergandeng tangan dengan Tuhan, ketika kita terpeleset dan jatuh, tangan Tuhan yang kuat itu akan memegangi kita. Sehingga jatuh kita tidak akan sampai terjerembab muka ke tanah.

Baru mendengar mematikan dosa rasanya sudah susah sekali. Bagaimana dosa yang sudah begitu membelenggu kita selama bertahun-tahun dapat dimatikan. Berhenti sebentar saja sulit sekali. Tetapi ini bukan pekerjaan kita sendiri, ingat itu, ingat janji Tuhan. Pengudusan adalah juga pekerjaan Allah. Mematikan dosa adalah pekerjaan kita bersama-sama dengan Allah. Sesuatu privilege kita boleh bekerja bersama dengan Allah. Jika Allah memberikan janji-Nya maka Dia akan mengerjakannya, sempurna dan segera. “Sebab bagi Allah tidak ada yang mustahil” (Luk 1:37). Memang Paulus sendiri yang mengatakan “hidup adalah Kristus” (Fil 1:21). Tetapi anda akan berkata, ya itu kan Paulus. Rasul besar Tuhan sendiri, raksasa rohani yang ada diatas sana. Sedangkan kita orang awam akan sangat kesulitan sekali untuk bisa menerapkan ini. Jika anda dan saya benar-benar percaya bahwa kita adalah anak-anak Allah. Orang-orang yang sudah ditebus oleh darah Kristus dalam pekerjaan keselamatan-Nya yang dahsyat itu. Kita harus ingat bahwa Allah yang sama juga berjanji bahwa “mereka yang dibenarkan-Nya, mereka itu juga dimuliakan-Nya” (Rom 8:30). Kemuliaan itu akan ada ditangan kita. Apakah Tuhan tidak mampu memenuhi janji-Nya ini? Apakah Tuhan tidak mampu untuk menunjang hidup kita sampai kepada kemuliaan itu? “Dan jika kita adalah anak, maka kita juga adalah ahli waris, maksudnya orang-orang yang berhak menerima janji-janji Allah” (Rom 8:17).

Ya memang tidak mungkin kita dengan tiba-tiba bertobat lalu menjadi orang seperti Paulus. Bukan itu masalahnya. Tetapi dengan apa yang sudah Tuhan berikan kepada kita, anugerah itu, kita mulai sekarang, saat ini juga, mulai berani melangkah. Ambil keputusan. Matikan dosa itu. Anda tidak tahu apa yang akan terjadi. Tetapi peganglah janji-janji Allah. Hanya Dia yang tidak akan pernah mengecewakan anda dan saya. Ingatlah akan Abraham, “dengan penuh keyakinan, bahwa Allah berkuasa untuk melaksanakan apa yang telah Ia janjikan” (Rom 4:21). Ini adalah iman. Abraham bapa orang beriman. Maka kalimat selanjutnya adalah “Karena itu hal ini diperhitungkan kepadanya sebagai kebenaran” (Rom 4:22).

Daftar isi Dipanggil untuk Dikuduskan

  1. Pendahuluan
  2. Kudus Adalah Atribut Allah
  3. Hubungan Antara Keselamatan Dan Pengudusan
  4. Manusia Lama Dan Manusia Baru
  5. Sisa Dosa
  6. Mematikan Dosa
  7. Pengenalan Akan Allah
  8. Hukum Agama Dan Kesucian
  9. Hidup Kudus
  10. Dipisahkan Untuk Kemuliaan Tuhan