Ibadah Sejati

“Karena itu, saudara-saudara, demi kemurahan Allah aku menasihatkan kamu, supaya kamu mempersembahkan tubuhmu sebagai persembahan yang hidup, yang kudus dan yang berkenan kepada Allah: itu adalah ibadahmu yang sejati” (Rom 12:1).

Rasul Paulus menjabarkan dasar-dasar doktrin Kristen di kitab Roma dari mulai pasalnya yang pertama sampai dengan ke sebelas, maka dia mengakhiri pasal 11 dengan suatu doksologi mengembalikan kemuliaan Allah kepada-Nya: “Sebab segala sesuatu adalah dari Dia, dan oleh Dia, dan kepada Dia: Bagi Dialah kemuliaan sampai selama-lamanya!” (Rom 11:36). Dan kemudian disambung di ayat pertama Roma 12 dengan kata “karena itu”. Karena semua yang sudah dia bahas sebelumnya, maka dia menulis ayat pertama Roma 12, yang merupakan suatu nasihat, yaitu untuk kita mempersembahkan tubuh kita sebagai suatu persembahan yang hidup yang kudus dan berkenan kepada Allah. Ini adalah ibadah kita yang sejati. Saya akan membahas secara garis besarnya saja disini karena topik ini sangat panjang. Jika Tuhan pimpin dapat saya buat sebagai suatu serial.

Dalam Roma 1 sampai 11, Paulus berbicara mengenai doktrin-doktrin penting kekristenan seperti anugerah (kasih karunia), iman, pembenaran dalam Kristus Yesus, dosa, pergumulan dosa, hidup baru, predestinasi, sotereologi, hidup kudus, dan masih banyak yang lain. Maka dia hendak menyampaikan bahwa bagi orang-orang yang sudah menerima anugerah keselamatan dalam Kristus Yesus itu melalui iman, maka (“karena itu”) sebagai urutan yang logis sebagai respon dari semuanya itu adalah bagi kita untuk mempersembahkan tubuh kita sebagai suatu persembahan yang hidup, yang kudus, yang berkenan bagi Allah. Pertama, kita tidak akan pernah bisa mempersembahkan kekudusan tanpa adanya anugerah. Kita tidak pernah dapat membuat Allah berkenan tanpa adanya anugerah. Suatu konsep kekristenan dasar yaitu segala sesuatu harus dimulai dari anugerah Allah. Allah selalu yang memulai. Allah yang menciptakan kita. Allah kemudian memberkati kita. Baru kemudian Allah memberikan perintah-Nya.

Kalimat kedua yang kita bahas adalah “tubuhmu sebagai persembahan yang hidup”. Ketika kita bicara tentang persembahan biasanya selalu dikaitkan dengan sesuatu yang mati seperti hewan yang sudah dimatikan maupun benda2 mati yang lain (termasuk uang juga). Tetapi disini Paulus mengatakan untuk mempersembahkan tubuh kita yang hidup. Maka disini dia mau kita memberikan tubuh hidup kita sebagai suatu persembahan. Bukan juga kita memberikan sesuatu diluar kita, melainkan tubuh kita sendiri sebagai obyeknya.

Berikutnya adalah “persembahan yang kudus dan berkenan kepada Allah”. Persembahan kepada Tuhan biasanya di PL harus memenuhi suatu kriteria tertentu. Jika itu domba harus jantan, berumur satu tahun, tidak bercacat. Ini menggambarkan Anak Domba Allah sendiri yaitu Kristus Yesus yang mempersembahkan diri-Nya sendiri untuk menebus kita. Tetapi disini sekarang Paulus mau mengaitkan persembahan itu dengan tubuh kita sendiri. Maka kita haruslah mempersembahkan tubuh kita ini sebagai suatu persembahan yang kudus yang membuat Allah berkenan. Yang artinya kita harus hidup kudus dan hanya bisa dicapai di dalam Kristus Yesus. Pararel dengan yang ditulis di Gal 2:20 “namun aku hidup, tetapi bukan lagi aku sendiri yang hidup, melainkan Kristus yang hidup di dalam aku”. Suatu kehidupan yang mengosongkan diri, menyangkal diri, mematikan dosa, menyalibkan manusia lama kita. Suatu kehidupan yang baru, “hidup menurut Roh” (Rom 8:5), suatu “kehidupan oleh karena kebenaran” (Rom 8:10). Hanya inilah yang membuat Allah Bapa berkenan.

Pada bagian terakhir, Paulus berkata bahwa inilah ibadah kita yang sejati. Ketika kita berbicara mengenai ibadah maka yang ada di pikiran kita adalah hari minggu kita pergi ke gereja. Ya memang betul itu adalah ibadah. Tetapi sebenarnya konsep ibadah tidak dapat dipersempit pada ibadah hari minggu saja. Kehidupan manusia setiap harinya adalah harus merupakan suatu ibadah kepada Tuhan. Mulai dari bangun pagi sampai tidur kembali malam hari, setiap hari sampai kita bertemu Tuhan lagi adalah suatu ibadah. Ketika Musa diminta Tuhan untuk mengeluarkan umat Israel dari perbudakan Mesir, maka dikatakan demikian: “Biarkanlah umat-Ku pergi, supaya mereka beribadah kepada-Ku” (Kel 8:1). Tuhan membebaskan Israel dari perbudakan Mesir, dan ini menggambarkan Tuhan yang membebaskan kita semua dari perbudakan dosa, dengan satu tujuan yaitu untuk beribadah kepada Tuhan. Dibebaskan bukan untuk bersenang-senang, bukan untuk menjadi kaya, bukan untuk menikmati hidup secara duniawi, tetapi untuk beribadah. Menarik ini karena jarang sekali orang memperhatikan hal ini. Biasanya ketika seseorang “dibebaskan” dari suatu belenggu, maka biasanya yang dipikirkannya untuk diperbuat adalah pelampiasan2 akan hal2 yang dahulunya tidak dapat diperbuatnya ketika dia dibelenggu. Tetapi tidak halnya dengan Tuhan. Dia membebaskan kita untuk kita beribadah kepada-Nya.

Kita bahas aplikasinya disini. Maka hidup kita haruslah kita persembahkan seluruhnya kepada Tuhan sebagai suatu ibadah. Setiap harinya setiap jam secara utuh kita persembahkan seluruhnya. Maka disini kita harus mengkaitkan segala konteks kehidupan kita dengan kehendak Tuhan, jalan Tuhan. Biarlah kehendak-Nya memimpin seluruh jalan hidup hidup kita. Sama seperti Kristus Yesus sendiri yang selama hidup-Nya sampai matinya taat sepenuhnya kepada kehendak Bapa-Nya. Suatu kehidupan yang utuh, yang kudus, tanpa cacat dosa. Inilah kekristenan yang sejati.

Ketika kita keluar dari jalur ini, maka terjadilah kehidupan yang pecah. Maka orang menjadi kudus, menjadi Kristen, hanya 2 jam seminggu pada waktu ibadah saja. Dia berdoa menyanyi memuji Tuhan. Tetapi ketika dia keluar dari gereja maka dia akan menjadi orang dunia lagi. Ketika dia bekerja tidak ada hubungannya dengan Tuhan sama sekali. Oh firman ya tidak bisa di aplikasikan di pekerjaan, itu tidak ada hubungannya. Itu kan urusannya pak pendeta saja. Maka dia akan memeras pegawainya, menipu bosnya, menyikut sesama pekerjanya, membohongi customernya, dsb apa saja untuk untung dapat uang dapat posisi dsb, apa saja. Tuhan tidak ada disini. Tetapi nanti ketika hari minggu ke gereja, tiba2 dia menjadi orang sucinya Tuhan. Ini omong kosong.

Sebenarnya masih banyak contoh yang lain, misalnya dalam keluarga, hubungan antara teman, dsb. Tetapi saya rasa anda sudah bisa mendapatkan gambarannya. Maka Tuhan menghendaki suatu hidup yang utuh, berintegritas, hidup yang sepenuhnya pada jalan Tuhan, apapun yang kita kerjakan, apapun profesi kita. Kita persembahkan itu semua sebagai suatu persembahan yang hidup, yang kudus dan berkenan kepada Allah. Itulah ibadah kita yang sejati. Tuhan memberkati. Amin.