Isteri dan Panggilannya

Isteri diciptakan oleh Tuhan untuk menjadi penolong yang sepadan bagi suaminya (Kej. 2:18). Di sini kita bisa melihat bahwa secara ordo isteri diletakkan Tuhan di bawah suami. Meskipun secara hakekat, pria dan wanita adalah sederajat, sama-sama manusia. Tetapi di dalam konteks perkawinan, suami ditetapkan untuk menjadi pemimpin dan isteri harus tunduk kepada suaminya bahkan seperti kepada Tuhan (Ef. 5:22). Seperti yang sudah saya singgung sebelumnya, ini bukan berarti para bapak-bapak dapat berbuat semena-mena menginjak-injak isterinya dengan memakai alasan ini. Anda bertanggung jawab sendiri kepada Tuhan. Tetapi di sini Tuhan menciptakan suatu ordo, suatu tatanan yang indah, yang berfungsi secara sempurna ketika ia dijalankan.

Masalah yang ada di keluarga adalah ketika isteri mau mengambil alih fungsi suami sebagai pemimpin. Ini bahkan sudah di sebutkan di Kej. 3:16 “namun engkau akan berahi kepada suamimu dan ia akan berkuasa atasmu”. Berahi di sini bukan yang berhubungan dengan seks, tetapi lebih diartikan sebagai “mau menguasai” suamimu. Ini sebenarnya adalah akibat dari dosa. Seandainya manusia tidak pernah jatuh ke dalam dosa, para suami akan memimpin isterinya dengan penuh cinta kasih dan bijaksana dan para isteri akan tunduk kepada suaminya dengan rendah hati dan kelemahlembutan (Matthew Henry commentary). Tetapi karena dosa, isteri merasakan keharusan untuk tunduk ini menjadi beban negatif. Ia tidak akan menyukainya dan ia akan berusaha untuk melawannya. Tetapi ia harus tetap tunduk. Maka ini sebenarnya adalah hukuman yang Tuhan berikan kepada para isteri. Jadi isteri yang ingin berkuasa atas suaminya adalah bukan hal baru. Sudah ada sejak Adam dan Hawa. Alkitab secara jitu mengajarkannya kepada kita hanya saja banyak dari kita yang tidak menyadarinya.

Keadaan ini menjadi lebih kompleks lagi dengan berkembangnya dosa yang semakin parah. Banyak laki-laki yang tidak mengenal prinsip firman Tuhan (karena tidak ada yang mengajarkannya padanya) tumbuh besar dan menjadi seorang suami. Mereka yang tidak kuat dalam panggilannya ini dengan mudah akan kalah dengan isterinya. Lalu juga di jaman modern ini lebih banyak wanita yang lebih aktif dan mandiri dibandingkan di beberapa dekade yang lalu. Mereka sukses di karir, bisnis, organisasi atau memegang tampuk kepemimpinan di berbagai tempat. Lalu mereka kembali ke keluarga dan harus tunduk kepada suami, apalagi yang tidak begitu sukses.

Tetapi masih ada harapan. Di dalam penebusan Yesus Kristus, kerusakan akibat dosa dipulihkan. Ketika suami dan istri dilahirbarukan maka suatu kehidupan baru diberikan. Relasi suami isteri dikembalikan seperti asalnya tadi di mana suami akan mengasihi isteri dan istri akan tunduk kepada suami dengan rendah hati dan penuh kelembutan. Suami isteri menjalankan paggilannya, maka mereka berfungsi seperti tujuan diciptakan. Maka ini akan menghasilkan keindahan, sukacita, dan kebahagiaan. Bukankah ini adalah keluarga yang diberkati?

Ketika seorang isteri tunduk kepada suaminya, ini pasti akan lebih memudahkan suami untuk mengasihinya. Dan sebaliknya, ketika suami mengasihi isteri ini akan lebih memudahkan isteri untuk tunduk kepadanya. Maka ketika di dalam anugerah Tuhan, keluarga Anda dan saya diberikan takut akan Tuhan maka dua belah pihak, suami dan isteri, akan diberikan suatu awal untuk memulai hidup baru untuk mengasihi dan menghormati satu sama lain.Dan dalam waktu ini akan terus bertumbuh menjadi lebih baik. Semakin mengasihi, maka semakin tunduk dan sebaliknya secara terus menerus. Maka ini adalah suatu proses pembalikan daripada yang dihasilkan dosa yaitu kerusakan yang semakin menghancurkan. Itulah pekerjaan iblis yaitu menghancurkan dan merusakkan segala sesuatu.

Suami isteri yang berdamai akan menghasilkan berkat bagi siapa saja yang ada di sekitar mereka. Yang paling terkena dampaknya adalah anak-anaknya. Coba Anda perhatikan keluarga-keluarga yang ada di sekitar Anda. Ketika suami dan isteri ada masalah atau tidak menjalankan panggilan mereka dengan benar, maka keluarga akan menjadi kacau. Korban pertama dari keluarga kacau adalah anak-anak mereka. Selama hidup saya tidak pernah melihat anak-anak yang “normal” dihasilkan dari keluarga yang “rusak”. Kecuali karena anugerah Tuhan yang mengintervensi. Anak-anak yang dari kecil tumbuh dalam keluarga yang orang tuanya bertengkar terus misalnya akan tertanamkan dalam jiwa mereka bahwa keluarga yang normal itu ya seharusnya begitu. Maka ketika mereka dewasa dan kemudian menikah, maka hal yang sama akan kembali terulang lagi. Seperti siklus yang terus berputar.

Ketika Anda dan saya menyadari Tuhan bekerja dalam keluarga kita, menghadirkan kebenaran, kasih dan damai sejahtera, maka terpujilah Tuhan. Jikalau belum, maka mintalah kepada-Nya agar Anda dapat juga berbagian dalam sukacita Kerajaan Allah.

Soli Deo Gloria.