Suami dan Panggilannya

Masing-masing anggota keluarga memiliki panggilan dan fungsi yang berbeda. Sama seperti anggota tubuh manusia yang masing-masing memiliki fungsinya sendiri. Ada kepala ada tangan. Tangan tidak bisa jadi kepala dan sebaliknya. Suami adalah kepala keluarga yang ditetapkan oleh Alkitab. Isteri adalah penolong yang sepadan dari suami. Ketika isteri mau naik menjadi kepala, maka sudah pasti keluarga akan menjadi kacau. Meskipun diciptakan sama sederajat sebagai manusia, tetapi di dalam konteks keluarga, laki-laki secara ordo harus menjadi kepala. “Hai isteri, tunduklah kepada suamimu seperti kepada Tuhan, karena suami adalah kepala isteri sama seperti Kristus adalah kepala jemaat. Dialah yang menyelamatkan tubuh. Karena itu sebagaimana jemaat tunduk kepada Kristus, demikian jugalah isteri kepada suami dalam segala sesuatu” (Ef. 5:22-24).

Saya bukannya mau memberikan angin segar kepada bapak-bapak sehingga sekarang Anda memiliki pembenaran untuk berkuasa terhadap isteri Anda. Tetapi Anda harus melihat firman ini secara lengkap di mana bagian terakhirnya berkata “seperti Kristus” terhadap jemaat-Nya. Apa yang dilakukan Kristus kepada jemaat-Nya? Dia melayaninya, menguduskannya, menderita baginya, bahkan rela menyerahkan nyawa-Nya mati di salib. Karena kasih. Kristus, seorang kepala yang begitu mengasihi jemaat-Nya. Sama seperti Kristus, para suami diminta untuk mengasihi isterinya. “Hai suami, kasihilah isterimu sebagaimana Kristus telah mengasihi jemaat dan telah menyerahkan diri-Nya baginya” (Ef. 5:25).

Banyak dari kita ketika diberikan posisi pemimpin, seorang kepala, semua pasti akan senang. Tetapi banyak dari kita tidak pernah berpikir apa itu tanggung jawab seorang pemimpin. Yang kita pikirkan hanyalah hak-haknya saja. Seorang pemimpin memberikan segalanya bagi yang dipimpin. Ini adalah suatu pekerjaan yang berat, tanggung jawab yang besar, pengorbanan yang banyak dan sangkal diri. Dan ini hanya dapat dikerjakan oleh karena satu motor penggerak saja yaitu kasih. Karena kasih, orang mau berkorban, atau bahkan mau menyerahkan nyawanya. Kristus sudah membuktikan ini sendiri.

Tetapi dari mana kita mendapatkan kasih? Banyak orang yang ketika pacaran sangat mengasihi pasangannya, tetapi ketika sudah 20 tahun menikah, apakah kasih mula-mula ini masih ada? Bukan kasih yang seperti ini yang saya maksudkan, tetapi kasih yang sejati yang hanya dapat diberikan di dalam Yesus Kristus. Ketika kita orang berdosa yang sudah layak untuk dibuang dan mati, tetapi Kristus mau menyelamatkan kita, menebus kita dengan darah-Nya sendiri, mati bagi kita. Kasih Kristus yang besar ini ketika kita benar-benar bisa merasakannya menembusi diri kita yang paling dalam,akan memampukan kita mengasihi Tuhan dan juga mengasihi manusia. Hanya suami yang seperti ini yang dapat benar-benar mengasihi isterinya. Kasih sejati yang bersumber dari Kristus.

Banyak suami mengasihi isterinya karena dia baik sekali, cantik, pintar masak, lemah lembut, penurut dan sebagainya. Tetapi kalau isteri saudara mengomeli saudara terus-terusan, tidak menghargai saudara, tidak melayani saudara, apakah saudara bisa mengasihinya? Kasih yang sejati tidak bersyarat. Lihatlah Kristus. Apakah kita manusia yang layak mendapatkan kasih Kristus? Apakah kita manusia yang taat menjalankan perintah-Nya? Kristus mati ketika kita masih berdosa.

Alkitab dengan tepat sekali mengajarkan bahwa kasih adalah sesuatu yang lebih dibutuhkan wanita daripada pria. Pria lebih membutuhkan hormat daripada kasih. Pria adalah pemimpin dimana dia lebih memerlukan hormat daripada kasih. Dan sebaliknya, wanita adalah yang dipimpin maka dia lebih memerlukan kasih daripada hormat. Mengasihi isteri kelihatannya gampang, tetapi dalam praktek ini lebih kompleks dari yang dapat kita pikirkan. Karena kasih, maka suami akan memperhatikan dan merawat isterinya, menguduskannya. Inilah yang Alkitab hendak ajarkan kepada kita. Membawa isteri kita kepada kekudusan itu adalah tujuannya. Sama seperti Kristus menguduskan jemaat-Nya, seorang suami hendaklah menguduskan isterinya (Ef. 5:26).

Terakhir, sebagai kepala keluarga seorang suami adalah imam. Seorang imam memiliki fungsi untuk menguduskan, memimpin, mengajar, mendoakan, keluarganya. Membawa istri dan anak-anaknya ke hadapan Tuhan. Ya tentu seorang suami harus bekerja untuk menghidupi keluarganya, tetapi itu tidak berhenti sampai disitu saja. Ia memiliki suatu panggilan yang lebih mulia yaitu untuk menguduskan keluarganya, membawa takut akan Tuhan ke dalam keluarganya.

Soli Deo Gloria